5 WNI Diculik, Anggota DPR Menilai Malaysia Belum Maksimal soal Patroli Bersama

JAKARTA – Anggota Komisi I DPR Sukamta menyebut, salah satu indikasi terjadinya penculikan 5 WNI di Perairan Tambisan, Tungku Lahad Datu, N Sabah karena pihak tentara Malaysia belum mengimplementasikan kesepakatan patroli bersama.

“Di wilayah yang rawan itu, memang kita punya kesepakatan antara (tentara) Indonesia, Malaysia dan Filipina untuk patroli bersama. Ternyata, ada indikasi tentara Malaysia ini belum melakukan patroli yang memadai di situ,” ujar Sukamta di Kantor DPP PKS, Jakarta, Senin (20/1/2020).

Sukamta mengatakan, penculikan tersebut berada di wilayah yang menjadi teritorial patroli tentara Malaysia.

Karena itu, pihaknya meminta kepada seluruh pihak konsisten dalam mengimplementasikan kesepakatan bersama.

“Saya kira ini perlu penanganan yang komprehensif. Upaya kita membuat semua pihak yang sudah berjanji itu untuk konsisten melaksanakan perjanjian,” ucap dia.

Dia juga mengatakab, perjanjian itu merupakan perjanjian militer sehingg TNI perlu membangun komunikasi dengan tentara Malaysia supaya komitmen awal dipenuhi.

“Kalau perjanjian ini kan perjanjian militer, mestinya TNI melakukan kontak dengan mitra di Malaysia dengan mendorong supaya komitmennya dipenuhi,” ucap dia.

Penculikan WNI yang bekerja di Negeri Sabah, Malaysia di Perairan Tambisan, Tungku Lahad Datu, N Sabah, Malaysia kembali terjadi.

Dari delapan kru kapal yang semuanya WNI, lima orang di antaranya diculik. Sementara itu, tiga di antaranya dibebaskan bersama kapal mereka. 

Berdasarkan informasi tertulis dari Kepolisian Tambisan, Sabtu (18/1/2019), lokasi penculikan tidak jauh dari lokasi hilangnya Muhammad Farhan (27) dan kawan-kawan pada 23 September 2020, tepatnya di Perairan Tambisan Tungku Lahad Datu.

Kali ini, kejadiannya berlangsung pada Kamis (16/1/2019) pukul 20.00 waktu setempat.

Saat itu, kedelapan WNI ini menangkap ikan menggunakan kapal kayu dengan izin terdaftar nomor SSK 00543/F.

Penculikan WNI yang menggunakan kapal atas nama majikan mereka di Sandakan ini diterima laporannya oleh aparat Kepolisian Maritim Lahad Datu pada Jumat (17/1/2019) sekira pukul 13.17 waktu setempat.

Setelah mendapatkan laporan itu, aparat kepolisian negara itu bergerak melakukan pencarian hingga akhirnya melihat kapal bergerak dari arah Filipina memasuki Perairan Malaysia.

Keberadaan kapal yang digunakan WNI tersebut terpantau radar Pos ATM Tambisan pada Jumat sekira pukul 21.10 waktu setempat.

Aparat Kepolisian Maritim Lahad Datu menahan kapal tersebut sambil melakukan penggeledahan dan ditemukan tiga kru semuanya WNI.

Ketiga WNI yang ditemukan bersama kapalnya adalah Abdul Latif (37), Daeng Akbal (20), dan Pian bin Janiru (36).

Sementara itu, lima rekannya, yakni Arsyad bin Dahlan (42) selaku juragan, Arizal Kastamiran (29), La Baa (32), Riswanto bin Hayono (27), dan Edi bin Lawalopo (53) dipastikan disandera.

 

 

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.