Pelajaran dari Pandemi Flu 1918, Terlalu Dini Longgarkan Aturan Bisa Nyawa Taruhannya

Pada 25 Januari 1919 hampir 2.000 warga San Fransico berkumpul di Dreamland Rink untuk menggelar pertemuan akbar Liga Anti-Masker. Di tengah mewabahnya pandemi influenza di kota itu, Dewan Pengawas Kota memberlakukan aturan mewajibkan warga memakai masker di ruang publik. Massa yang berkumpul itu sudah lelah dengan pandemi dan terutama kewajiban memakai masker.

Aturan memakai masker ini sebelumnya tidak pernah diberlakukan dengan keras. Pada musim gugur dan musim dingin 1918-1919, influenza merajalela di seluruh dunia. Inilah wabah paling mematikan dalam sejarah umat manusia di muka bumi. Ketika pandemi berakhir, hampir satu pertiga populasi dunia kala itu terinfeksi. Sekitar 50-100 juta orang meninggal, sekitar 650.000 di antaranya orang Amerika.

Pandemi ini pertama menyerang Kota Boston pada akhir Agustus dan secara bertahap menyebar ke seantero negeri, menulari seluruh penduduk Amerika dalam hitungan pekan. San Fransisco, seperti banyak kota di pesisir Barat Amerika, berharap mereka tidak ikut tertular tapi impian itu hancur belaka ketika pertengahan Oktober, seantero kota terjangkit dan pemerintah kota menerapkan aturan kesehatan untuk melindungi warga. Akhir Januari, warga San Fransisco mulai gerah dengan aturan ketat pemerintah dan membentuk Liga Anti-Masker dan menggelar pertemuan akbar sebagai pesan perlawanan. Mereka sepakat membuat resolusi dan mengatakan aturan pemerintah kota itu “bertentangan dengan kehendak mayoritas warga”.

Dikutip dari laman Time pekan lalu, meski peristiwa itu terjadi lebih dari satu abad lalu, tapi kondisi sekarang di AS menyerupai kala itu. Jumat lalu sekitar 2.000 orang turun ke jalan di Wisconsin State Capitol untuk mendesak pemerintah negara bagian mengakhiri aturan “di rumah saja” yang belum la diperpanjang hingga 26 Mei.

Di tengah kecamuk Perang Dunia Pertama

kecamuk perang dunia pertama

Para pendemo, tanpa memakai masker, mengecam aturan kesehatan yang sejatinya untuk melindungi mereka. Aturan ini, bagi mereka, membuat sebagian dari warga dipecat dari pekerjaannya dan mereka khawatir dengan dampak ekonomi. Sebagian menyebut peraturan itu adalah buatan komplotan jahat yang ingin merampas kebebasan. Unjuk rasa semacam ini kemudian menyebar ke seluruh negeri. Dari Sacramento sampai Sarasota, Boise, hingga ke Baton Rouge, penduduk Amerika menolak aturan kesehatan untuk menentang seruan “di rumah saja”.

Tapi apa yang terjadi pada pandemi influenza 1918-1919 di San Fransisco seabad silam seharusnya menjadi pelajaran bagi para pendemo itu. Kurangnya upaya perlindungan atau pencabutan aturan karantina yang terlalu dini bisa merenggut nyawa banyak orang.

Pada waktu kasus pertama influenza terjadi di San Fransisco 24 September 1918, pemerintah kota mengambil langkah hati-hati. Meski pesisir timur memperlihatkan betapa mengerikannya pandemi itu, mereka memilih hanya mengkarantina warga yang sakit dan membuat laporan tentang mereka yang terjangkit. Di tengah kecamuk Perang Dunia Pertama, pemerintah kota tetap ingin memperlihatkan upaya patriotisme dengan tetap mengadakan pawai penggalangan dana perang.

Ketika situasi kian memburuk, pada pertengahan Oktober Dewan Kesehatan akhirnya menyerukan diberlakukannya aturan pencegahan seperti menghindari kerumunan dan menjaga kebersihan. Mereka juga menutup tempat-tempat publik berkumpul dan mewajibkan kendaraan memakai ventilasi. Namun dalam hitungan hari, San Fransisco mulai kewalahan.

Gelombang kedua pandemi

pandemi

Warga hanya patuh sesaat. Sejak awal banyak yang menolak memakai masker dan sebagian memakai tapi tidak benar. Tak lama warga mulai mengabaikan masker. Polisi berusaha menegakkan aturan. Mereka yang melanggar didenda USD 5 sampai USD 10 dan bahkan dipenjara. Dalam razia di sebuah hotel, 400 warga tanpa masker ditangkap. Ketika akhir Oktober, hampir 20.000 warga di kota itu terjangkit influenza dan lebih dari 1.000 meninggal.

Namun setelah aturan kesehatan diberlakukan selama beberapa pekan, keadaan mulai ada perbaikan. Awal November, Dewan Kesehatan Kota mencabut aturan penutupan tempat publik. Warga kemudian berlomba keluar rumah untuk merayakannya. Mereka pergi ke bioskop, melihat pertandingan tinju dan seterusnya. Meski masker tetap diminta untuk dipakai, banyak warga mengabaikannya. Ketika sang wali kota dan kepala kesehatan ketahuan tidak memakai masker, aturan itu langsung ambyar.

Pada 7 Desember pejabat kesehatan kota memperingatkan kota itu kembali menghadapi kondisi pandemi dan meminta warga memakai kembali masker mereka. Namun 90 persen warga menolak. Kondisi ini memicu perdebatan publik dan pada 19 desember Dewan Pengawas memutuskan masker tidak perlu dipakai lagi.

Pada awal Januari dampak dari keputusan ini tampak jelas,. Dokter melaporkan ada 600 kasus baru influenza pada 10 Januari saja. Pada akhirnya Dewan Pengawas kemudian mewajibkan kembali aturan memakai masker di ruang publik, Keputusan ini memicu pertemuan akbar Lia Anti-Masker pada 17 Januari.

Penelitian sejarawan dan ilmuwan

dan ilmuwan

Pada 1 Februari aturan pemakaian masker makin sulit diberlakukan. Sementara itu pemerintah kota juga tidak kembali menutup tempat-tempat publik berkumpul seperti yang mereka lakukan di awal wabah.

Di akhir musim semi ketika pandemi mulai berakhir, 45.000 warga San Fransisco terpapar influenza dan 3.000 lebih meninggal akibat munculnya dua gelombang pandemi. Itu adalah angka kematian tertinggi di AS kala itu.

Hasil penelitian oleh sejarawan dan ilmuwan di Universitas Michigan dan Pusat Pengendalian dan Pencegah Penyakit menjelaskan apa yang terjadi di San Fransisco. Analisis data dari sejumlah kota di Amerika pada 1918-1919 saat pandemi influenza membuktikan efektivitas aturan karantina seperti yang saat ini dialami penduduk bumi. Kota yang menerapkan aturan karantina, penutupan tempat publik dan aturan ketat lainnya memperlihatkan angka kematian yang lebih rendah dibanding kota yang tidak melakukan itu seperti San Fransisco. Ketika para pengunjuk rasa Liga Anti-Masker berkumpul pada pertemuan akbar 1918 itu mereka berkontribusi terhadap penyebaran penyakit.

 

 

 

Sumber: Merdeka.com